English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 17 Juli 2009

0 Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan

Jumat, Juli 17, 2009 Under From BANTARA SMANCI
[0 Comment]
Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan
teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.

Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.

Pendidikan Cenderung Dibisniskan.

Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.

Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.

Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?

Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.

Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.



Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.



Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.



Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."



Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
Read More »

Rabu, 01 Juli 2009

1 About Me

Rabu, Juli 01, 2009 Under From BANTARA SMANCI
[1 Comment]
About Me....
Assalamu'alaikumWr. Wb.
Iwan kustiawan, Lahir di Kuningan tanggal 14 April 1991. sama dengan Romi Satria Wahono tinggal menyelesaikan S3 namun pengertian S3 disini berbeda yaitu S1 : Alumni dari Sekolah Dasar(SD) Negeri 2 Cikadu(1998 - 2004), S2 : Alumni dari SMP N 1 Nusaherang (2004 - 2007), dan S3 : sekarang Sekolah di SMAN 1 Ciawigeabng (2007 - sekarang). sekarang aku aktif di Organisasi pramuka walaupun aku tidak menjadi DA (Dewan Ambalan) tetapai aku yang paling diktakuti oleh anak" kls X loeee (katanya sih!!! coba aja bktikan.. hehe..) . sudah ketahuan bahwa yang namnya Iwan itu:
I : Intelegentnya kuat..hehehe
W: wooww... emang bener tuh..
A : ahc... masa ga percya sih..
N: nanti kita buktikan.... klw ketemu hehe
mungkin hanya ini dulu profile saya semoga dapat memberikan suatu penjelasan bagi anda-anda yang selalu bertanya-tanya siapakah presiden yang akan terpilih... eh salah, ko ngomongin masalah pemilu sih.... dah ahhhh ntar di smabung lagi....
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Arti Sebuah Senyuman
senyuman tidak ada biayanya, tapi manfaatnya, tapi manfatnya Subhanllah
senyuman melunturkan kekerasan hati si penerima dan si pemberinya
tanpa membuat menjadikan miskin bagi si pemberi dan si penerima
senyuman akan membawa shodaqoh, menambah tabungan akhirat
senyuman berlangsung dalam sekejap tatapan mata begitu cepat,
begitu singkat dan begitu darurat
tetapi sangat besar kesan yang ditinggalkan dapat membekas kuat
& melanggengkan persaudaraan
senyuman menciptakan hangat dab bahagia dalam rumah tangga
masyarakat dan dikalangan umat.
mendorong produktivitas & persaudaraan setia di setiap Interaksi dakwahm sosial dan dunia usaha.
jika saja ada kejadian orang yang bosan melemparkan senyuman atau terlampau
letih untuk "melemparkan" senyuman apa salahnya jika ANDA saja yang
memberikan dahulu sebuah senyuman tapi senyuman yang ikhlas
karena Iman dan karena Allah SWT.



Read More »

Selasa, 23 Juni 2009

0 Pengetahuan Umum

Selasa, Juni 23, 2009 Under From BANTARA SMANCI
[0 Comment]
Uranium Ditemukan di Bulan


Maryadie, Mutia Nugrahen

VIVAnews - Apakah kalian tahun uranium? Uranium adalah zat radioaktif yang membantu terjadinya reaksi nuklir. Nuklir ini nantinya sangat berguna untuk bidang kedokteran, pertanian dan berbagai macam industri.

Untuk itu banyak orang mencari uranium dan biasanya ditemukan di daerah pertambangan. Nah, ternyata selain terdapat di bumi uranium ini juga terdapat di bulan. Hal itu diketahui berdasarkan penelitian pesawat ruang angkasa milik Jepang.

Menurut para ahli astronomi dengan ditemukannya uranium menunjukkan kalau terdapat elemen radioaktif di bulan. Jadi, nantinya ada kemungkinan untuk membuat tenaga nuklir di bulan. Pesawat ruang angkasa Jepang, Kaguya mendeteksi uranium dengan menggunakan sinar gamma.

Sinar tersebut juga bisa melihat komposisi bulan, yang terdiri dari torium, potasium, oksigen, magnesium, silikon, kalsium, titanium dan besi.

"Kami telah menemukan uranium di bulan yang belum diketahui sebelumnya," kata Robert Reedy, salah satu peneliti dari Planetary Science Institute.

Uranium ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan teknologi nuklir yang sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah alat-alat kedokteran yang digunakan untuk penyembuhan penyakit kanker atau tumor.


Fosil Piranha Raksasa

Maryadie, Mutia Nugraheni





Apakah kalian tahu ikan paling ganas yang hidup di perairan Amerika Selatan? Ikan tersebut adalah ikan piranha.

Nah, meskipun tubuhnya kecil tetapi piranha mampu menghabiskan makanannya berupa daging-dagingan hanya dalam hitungan detik.

Sebenarnya pada sekitar delapan atau sembilan juta tahun lalu di perairan Amerika Selatan terdapat ikan piranha yang panjangnya mencapai 1 meter.

Hal itu menurut Alberto Cione, seorang ahli fosil dari Museum La Plata Museum, Argentina.
Ia mengetahuinya setelah meneliti fosil ikan piranha berukuran besar yang disebut Megapiranha pananensis yang ditemukan pada tahun 1980.

Pada fosil terlihat pada rahang atas Megapiranha terdapat tiga gigi berukuran besar. Gigi tersebut, menurut Cione, digunakan untuk mempermudah megapiranha menangkap makanannya.

Tiga gigi raksasa itu tidak terdapat pada piranha yang saat ini hidup di perairan Amerika Selatan.

Piranha merupakan ikan yang hidup di air tawar yang sering juga disebut caribes oleh warga sekitar perairan.

Jika kalian penasaran ingin melihat piranha dari dekat tidak perlu jauh-jauh ke perairan Amazon, kalian bisa melihatnya di Seaworld, Anco


Read More »

Sabtu, 09 Mei 2009

3 B@ROUDAX BANTARA

Sabtu, Mei 09, 2009 Under From BANTARA SMANCI
[3 Comment]
Lalampahan BOedax Bantara

Kemah 1 Hari yang diaksnakan di Ciniru Jalaksana ( yg ada air panas nya ghituuu) pada tanggal 8 Juli berbarangan dengan malem pencontrengan besoknya........... dan inilah beberapa photo kegiatan yang kami lakukan selama berkemah di Ciniru (jalaksana)......

































inilah beberapa photo kegiatan Pelatikan TKU











dan ini lah Upacara pengukuhan












































CuRug B@ngKoeng

Penyalaan Api Unggun

Latihan Lapangan III














Pelatikan Syal
(Situ Cihaur)






















Pelantikan syal yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei bertempat di Situ Cihaur
Read More »